Di zaman sekarang, banyak anak didorong untuk menjadi yang terbaik, paling pintar, paling berbakat, paling terlihat. Tidak salah untuk berprestasi. Namun tanpa sadar, kita bisa membesarkan anak dengan pola pikir bahwa nilai diri mereka ditentukan dari sorotan dan pengakuan.
Kisah Nehemia memberi sudut pandang yang berbeda.
Saat tembok Yerusalem dibangun kembali, tidak semua orang menjadi pemimpin. Tidak semua disebut namanya. Ada yang membangun, ada yang berjaga, ada yang bekerja sambil memegang senjata. Setiap orang punya peran. Dan semuanya penting.
Budaya media sosial dan kompetisi sering membentuk anak untuk mencari validasi. Jika tidak dipuji, mereka merasa gagal. Jika tidak menonjol, mereka merasa tidak berarti.
Padahal dalam kisah Nehemia, keberhasilan terjadi bukan karena satu orang hebat, tetapi karena banyak orang mau bekerja sama. Anak perlu memahami bahwa kontribusi kecil tetap berharga di mata Tuhan.
Karakter tidak egois tidak terbentuk di panggung, tetapi di ruang keluarga.
Libatkan anak dalam tugas sederhana:
Membereskan mainan bersama.
Membantu menyiapkan meja makan.
Bergantian memilih permainan keluarga.
Hal kecil seperti ini mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang “aku”, melainkan tentang “kita”.
Nehemia menunjukkan bahwa setiap bagian tembok dibangun oleh orang yang berbeda. Jika satu bagian berhenti, seluruh tembok terancam.
Orangtua bisa melatih anak untuk:
- Mengucapkan terima kasih pada teman satu tim.
- Menghargai peran yang tidak terlihat.
- Tidak meremehkan tugas kecil.
Dengan begitu, anak belajar bahwa kerja sama lebih penting daripada menjadi pusat perhatian.
Anak perlu memahami bahwa melakukan kebaikan bukan untuk dipuji. Motivasi yang benar adalah memuliakan Tuhan.
Ketika anak mulai berkata, “Aku yang paling hebat!”, orangtua bisa dengan lembut mengarahkan, “Kita bisa hebat karena kita bekerja bersama, dan Tuhan yang menolong.”
Membesarkan anak yang tidak egois berarti membentuk hati yang siap dipakai Tuhan—entah di depan atau di belakang layar.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak mencari anak yang ingin paling bersinar.
Tuhan mencari anak yang mau bersatu, taat, dan setia dalam perannya.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK