Tidak semua anak merasa bebas menjadi dirinya sendiri di rumah. Ada anak-anak yang sebelum berbicara harus berpikir berkali-kali. Mereka menimbang kata-kata, membaca suasana hati orangtua, bahkan menahan perasaan mereka sendiri. Bukan karena mereka tidak jujur, tetapi karena mereka takut. Takut dimarahi, disalahkan, atau membuat suasana rumah berubah menjadi tegang.
Perasaan seperti ini sering disebut sebagai eggshell parenting. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika anak merasa harus “berjalan di atas kulit telur”—berhati-hati dalam setiap perkataan dan tindakan agar tidak memicu reaksi emosional dari orangtuanya.
Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk belajar, bertanya, bahkan melakukan kesalahan.
Dalam situasi eggshell parenting, anak sering kali menjadi sangat peka terhadap emosi orangtua. Mereka belajar membaca nada suara, ekspresi wajah, atau perubahan kecil dalam sikap orangtua. Semua itu dilakukan demi satu hal: menghindari konflik.
Lama-kelamaan, anak bisa mulai menyembunyikan perasaan mereka sendiri. Mereka mungkin tidak lagi menceritakan kesalahan yang mereka buat, tidak berani mengungkapkan pendapat, atau selalu berusaha menyenangkan orangtua.
Di luar rumah, anak mungkin terlihat baik-baik saja. Namun di dalam hati, mereka bisa menyimpan kecemasan, rasa takut, atau perasaan tidak cukup baik.
Hal yang perlu dipahami adalah, eggshell parenting sering kali tidak terjadi karena orangtua sengaja ingin menyakiti anak. Banyak orangtua sebenarnya sangat mengasihi anak-anak mereka.
Namun tekanan hidup, kelelahan, atau pola pengasuhan yang dulu mereka alami bisa membuat emosi mudah meledak. Kadang teguran disampaikan dengan nada yang terlalu keras, atau respons terhadap kesalahan anak menjadi lebih besar daripada yang sebenarnya diperlukan.
Tanpa disadari, anak mulai belajar bahwa rumah bukan tempat yang aman untuk jujur sepenuhnya.
Setiap anak membutuhkan rumah yang aman secara emosional—tempat di mana mereka tahu bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya. Anak perlu merasa bahwa mereka tetap diterima, bahkan ketika mereka sedang belajar dan belum sempurna.
Teguran tentu tetap diperlukan dalam pengasuhan. Namun ketika teguran disampaikan dengan kasih, anak tidak hanya belajar tentang benar dan salah, tetapi juga belajar tentang rasa aman.
Pada akhirnya, anak yang merasa aman di rumah akan lebih berani berkata jujur, lebih percaya diri, dan lebih terbuka kepada orangtuanya.
Karena rumah bukan hanya tempat tinggal.
Rumah adalah tempat di mana anak belajar bahwa mereka dicintai, bahkan ketika mereka masih dalam proses bertumbuh.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK