ARTICLE

Thu - Jan 08, 2026 / 279 / Parenting

Anak Suka Mengejek? Mungkin Ia Takut Dinilai dan Takut Gagal

Tidak sedikit orangtua merasa kaget atau kecewa ketika mendengar anaknya mengejek teman. Reaksi yang muncul sering kali adalah menegur, memarahi, atau langsung memberi label perilaku buruk. Padahal, di balik sikap mengejek, sering kali tersembunyi rasa takut yang belum mampu diungkapkan oleh anak.


Mengejek Bukan Selalu Tanda Anak Jahat

Bagi sebagian anak, mengejek adalah cara untuk menutupi ketakutan.
Takut salah.
Takut dinilai.
Takut terlihat tidak mampu.

Dengan mengejek orang lain yang sedang tampil, anak merasa sedikit lebih aman, seolah berkata,
“Selama bukan aku yang maju, aku tidak akan disorot.”

Sayangnya, pola ini bisa berbalik arah.
Anak yang terbiasa mengejek justru menjadi semakin takut untuk tampil, karena ia menyimpan ketakutan yang sama—takut dipermalukan seperti yang pernah ia lakukan kepada orang lain.


Ketika Anak Takut Dinilai, Bukan Tidak Mampu

Banyak anak sebenarnya bisa.
Mereka tahu jawabannya.
Mereka mampu melakukannya.

Namun ketakutan akan kesalahan dan penilaian membuat mereka memilih diam.
Budaya “harus sempurna” perlahan tumbuh, tanpa disadari, dari lingkungan sekitar—rumah, sekolah, bahkan dari respons orang dewasa.

Anak pun belajar bahwa tampil berarti siap disalahkan.

 

BACA JUGA : Aku Takut Tampil Karena Suka Mengejek Teman, Kini Aku Belajar Berani untuk Tuhan

 

Peran Orangtua: Menemani, Bukan Menghakimi

Saat anak mengejek, yang paling ia butuhkan bukan kemarahan, melainkan pendampingan.

Orangtua bisa mulai dengan:

Mengajak anak mengenali perasaannya: “Kamu takut ya kalau harus maju ke depan?”

Membantu anak memahami dampak kata-katanya pada orang lain

Menanamkan bahwa berani mencoba lebih penting daripada sempurna

Ketika anak merasa aman secara emosional, ia perlahan berani membuka diri.


Mengajarkan Anak Menghargai Keberanian

Anak perlu belajar bahwa yang layak dihargai bukan hanya hasil yang sempurna, tetapi keberanian untuk melangkah.

Orangtua dapat memberi contoh dengan:

Mengapresiasi usaha, bukan hanya keberhasilan

Menghindari komentar yang mempermalukan

Menunjukkan empati saat anak gagal

Dari sini, anak belajar melihat temannya bukan sebagai bahan ejekan, melainkan sebagai sesama yang sedang berproses.


Menumbuhkan Iman yang Membebaskan Anak dari Takut

Dalam iman Kristen, anak diajarkan bahwa Tuhan melihat hati, bukan penampilan.
Melayani dan melangkah untuk Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, tetapi ketaatan dan keberanian.

Ketika anak memahami hal ini, rasa takut perlahan digantikan oleh kepercayaan—bahwa ia aman, diterima, dan ditolong.

 

Mau belajar lebih banyak cara sederhana tapi berdampak untuk mendampingi anak? Yuk, temukan inspirasinya di The Parenting Project!

Miranda Rachel

Penulis Konten
Share :

Tags :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK