“Kata-Nya kepada mereka: ‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.’”
— Lukas 12:15 (TB)
Sebagai orangtua, momen ketika anak tiba-tiba berkata, “Aku harus punya itu!” pasti tidak asing. Entah itu mainan, gadget, atau sesuatu yang sedang tren di lingkungannya. Nada suaranya bisa mendesak, bahkan emosional—seolah kebahagiaannya bergantung pada hal itu.
Di titik ini, kita sering dilema. Mau menolak, takut anak kecewa. Mau mengiyakan, takut anak jadi terbiasa memaksakan keinginan.
Tapi sebenarnya, momen seperti ini bukan sekadar soal “boleh atau tidak boleh beli.” Ini adalah kesempatan emas untuk membentuk hati anak—bagaimana ia memandang keinginan, rasa cukup, dan nilai dirinya.
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan orangtua:
Saat anak memaksa, respons pertama kita sangat menentukan. Kalau langsung mengiyakan, anak belajar bahwa tekanan emosinya berhasil. Kalau langsung menolak dengan keras, anak bisa merasa tidak dimengerti.
Coba mulai dengan menenangkan situasi. Validasi perasaannya dulu:
“Wajar kok kamu pengen itu. Kelihatannya memang menarik ya.”
Dari sini, anak merasa didengar, bukan dilawan.
Anak sering kali belum bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Di sinilah peran orangtua untuk mengajarkan dengan sederhana.
Tanya dengan lembut:
“Menurut kamu, ini kamu butuh atau kamu lagi pengen banget?”
Tidak perlu menggurui. Cukup ajak berpikir. Lama-lama, anak akan belajar mengenali dorongan dalam dirinya sendiri.
Tanpa sadar, kita kadang berkata, “Nanti Mama beliin ya biar kamu senang.” Kalimat ini terlihat sederhana, tapi bisa membentuk pola pikir bahwa kebahagiaan datang dari barang.
Sebaliknya, arahkan anak untuk melihat bahwa perasaan senang bisa datang dari hal lain—waktu bersama, perhatian, atau pencapaian kecilnya.
Ini membantu anak tidak menggantungkan emosinya pada benda.
Tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Justru, belajar menunggu adalah bagian penting dari pertumbuhan anak.
Orangtua bisa berkata:
“Kita tidak beli sekarang, tapi kita lihat nanti ya. Kamu bisa tunggu?”
Kalau perlu, buat sistem sederhana seperti menabung atau target tertentu. Anak belajar bahwa keinginan tidak selalu instan.
Anak belajar lebih banyak dari apa yang kita lakukan, bukan hanya dari apa yang kita katakan.
Kalau orangtua mudah impulsif membeli sesuatu, anak akan meniru. Tapi ketika orangtua bisa berkata, “Aku sebenarnya mau, tapi aku gak butuh sekarang,” itu jadi pelajaran yang kuat.
Anak melihat langsung bagaimana mengelola keinginan dengan sehat.
Pada akhirnya, yang ingin kita bentuk bukan anak yang “tidak pernah meminta,” tapi anak yang tahu bahwa hidupnya tidak ditentukan oleh apa yang ia miliki.
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar…”
— 1 Timotius 6:6 (TB)
Ajak anak bersyukur atas apa yang sudah ada. Bukan dengan memaksa, tapi dengan membiasakan. Misalnya lewat percakapan sederhana sebelum tidur:
“Hari ini kamu paling bersyukur untuk apa?”
Pelan-pelan, hati anak akan belajar merasa cukup.
Saat anak memaksa ingin memiliki sesuatu, itu bukan sekadar tantangan—itu kesempatan. Kesempatan untuk mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan datang dari memiliki segalanya, tapi dari hati yang tahu bagaimana merasa cukup. Dan itu adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada benda apa pun yang bisa kita berikan.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK