ARTICLE

Tue - Jan 06, 2026 / 507 / Parenting

Anak Bertanya “Kalau Tuhan Baik, Kenapa Aku Sedih?” Ini Peran Orangtua Menemani Iman Anak

Suatu hari, anak bisa saja datang dengan pertanyaan yang membuat orangtua terdiam.

“Kenapa doaku belum dijawab?”
“Kalau Tuhan baik, kenapa aku tetap sedih?”
“Kenapa hal buruk bisa terjadi?”

Pertanyaan-pertanyaan ini sering membuat orangtua ingin segera memberi jawaban rohani yang rapi. Namun, kisah Ayub justru mengajarkan bahwa iman tidak selalu bertumbuh dari jawaban cepat, melainkan dari proses yang jujur.


Iman Ayub di Tengah Penderitaan

Ayub adalah orang yang hidup benar di hadapan Tuhan. Namun, dalam sekejap, ia kehilangan hampir segalanya. Yang menarik, Tuhan tidak langsung menjelaskan alasan di balik penderitaannya. Ayub diizinkan bertanya, menangis, bahkan mengungkapkan rasa frustrasinya.

Di sinilah orangtua bisa belajar satu hal penting:
Tuhan tidak marah pada pertanyaan yang lahir dari hati yang terluka.

Ayub tidak dipuji karena ia mengerti segalanya, tetapi karena ia tetap berpaut kepada Tuhan meski tidak memahami jalan-Nya.


Ketika Anak Mulai Bertanya tentang Tuhan

Anak-anak juga mengalami kehilangan, kekecewaan, dan kegagalan—meski dalam bentuk yang berbeda dari orang dewasa. Ketika mereka mulai bertanya tentang Tuhan, itu bukan tanda iman yang lemah, melainkan tanda iman yang sedang bertumbuh.

Namun sering kali, tanpa sadar, orangtua melakukan hal-hal berikut:

- Terlalu cepat memberi jawaban teologis

- Menghindari pertanyaan yang terasa sulit

- Mengoreksi perasaan anak dengan kalimat seperti “jangan ragu” atau “harusnya bersyukur”

Padahal, iman yang dipaksakan untuk selalu “baik-baik saja” justru bisa membuat anak merasa sendirian dalam pergumulannya.

BACA JUGA : Supebook Kids Club | Memulai Tahun 2026 dengan BERSYUKUR : Belajar dari Kisah Ayub


Peran Orangtua: Hadir, Bukan Menghakimi

Dari kisah Ayub, kita belajar bahwa iman tidak menuntut anak untuk langsung mengerti. Yang dibutuhkan anak adalah orangtua yang mau hadir.

Hadir berarti:

- Mendengarkan tanpa menyela

- Mengakui bahwa tidak semua pertanyaan punya jawaban instan

- Mengatakan dengan jujur, “Mama/Papa juga tidak selalu tahu jawabannya, tapi kita bisa percaya Tuhan bersama-sama”

Sikap ini menolong anak memahami bahwa Tuhan tidak jauh dari rasa sakit mereka. Bahwa iman bukan soal menutup mata dari kenyataan, tetapi berjalan bersama Tuhan di tengah kebingungan.


Mengajarkan Iman yang Dewasa Sejak Dini

Ketika anak belajar bahwa bertanya tidak membuat Tuhan menjauh, mereka akan tumbuh dengan iman yang lebih sehat. Mereka tahu bahwa Tuhan tidak hanya hadir saat hidup mudah, tetapi juga saat hati sedang penuh tanda tanya.

Seperti Ayub, anak-anak tidak harus memahami segalanya untuk tetap percaya. Yang penting, mereka tahu bahwa Tuhan tetap setia, meski jawabannya belum terlihat.

Sebagai orangtua, kita tidak dipanggil untuk menjadi sumber semua jawaban, tetapi menjadi teman perjalanan iman anak.

Ajak anak untuk berbicara tentang pertanyaan dan perasaannya tanpa takut dihakimi. Jadikan rumah dan kelas Sekolah Minggu sebagai tempat aman untuk bertanya, bertumbuh, dan mengenal Tuhan dengan iman yang jujur.

Miranda Rachel

Penulis Konten
Share :

Tags :

SUPERBOOK EDISI SEKOLAH MINGGU

Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.

Klik untuk bergabung

SUBSCRIBE

Dapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK

Copyright © 2018. SUPERBOOK