Anak-anak zaman sekarang tumbuh di dunia yang cepat, penuh tuntutan, dan seringkali tanpa kita sadari, mereka belajar untuk memikirkan banyak hal lebih dalam dari usianya. Mereka mulai takut salah, takut tidak cukup baik, atau bahkan takut akan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Sebagai orangtua, kita mungkin melihatnya sebagai “terlalu sensitif” atau “kepikiran terus”. Kita mungkin pernah berkata, “Udah, jangan dipikirin,” dengan harapan anak jadi lebih tenang. Tapi seringkali, kalimat itu justru membuat anak merasa sendirian dengan pikirannya.
Karena bagi mereka, itu bukan hal kecil. Itu nyata.
Ketika anak sering overthinking, itu bukan berarti mereka lemah. Justru seringkali, mereka adalah anak yang peka, yang peduli, dan yang ingin melakukan yang terbaik. Mereka memikirkan ulang apa yang mereka katakan, apa yang orang lain pikirkan tentang mereka, dan apa yang bisa terjadi selanjutnya.
Masalahnya, mereka belum tahu cara mengelola semua pikiran itu.
Di sinilah kita perlu hadir, bukan untuk langsung menghentikan pikiran mereka, tapi untuk membantu mereka memahami dan menenangkannya. Kita bisa mulai dengan mendengarkan. Bukan hanya mendengar kata-kata mereka, tapi juga menangkap rasa takut yang ada di baliknya.
Alih-alih berkata, “Jangan overthinking,” kita bisa mencoba, “Kamu lagi kepikiran apa?” atau “Apa yang bikin kamu khawatir?” Dari situ, anak belajar bahwa mereka tidak harus menghadapi semua itu sendirian.
Anak yang overthinking tidak butuh lebih banyak tekanan. Mereka sudah cukup keras pada diri mereka sendiri. Yang mereka butuhkan adalah tempat yang aman—tempat di mana mereka bisa jujur tanpa takut dihakimi.
Kita bisa membantu mereka dengan menenangkan, bukan mengoreksi terlalu cepat. Kita bisa ajak mereka melihat bahwa tidak semua hal harus sempurna, dan tidak semua kemungkinan buruk akan benar-benar terjadi.
Kadang, hal paling sederhana seperti berkata, “Nggak apa-apa kalau kamu takut, kita hadapi sama-sama ya,” bisa sangat menenangkan.
Selain itu, kita juga bisa membantu anak belajar membedakan antara “pikiran” dan “kenyataan”. Kita bisa tanya pelan-pelan, “Menurut kamu, itu pasti terjadi, atau kamu lagi membayangkan kemungkinan?” Ini membantu mereka pelan-pelan mengelola isi kepala mereka.
Yang tidak kalah penting, anak belajar dari kita. Cara kita merespons masalah, cara kita berbicara tentang diri sendiri, dan cara kita menghadapi kekhawatiran akan menjadi contoh langsung bagi mereka.
Kalau kita bisa tetap tenang di tengah situasi, anak juga akan belajar bahwa tidak semua hal harus ditakuti.
Pada akhirnya, tujuan kita bukan membuat anak berhenti berpikir, tapi menolong mereka merasa aman dengan pikirannya sendiri. Supaya mereka tahu, meskipun isi kepala mereka ramai, hati mereka tetap punya tempat untuk tenang.
Dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat, mungkin hal terbaik yang bisa kita berikan bukan semua jawaban—tapi kehadiran yang menenangkan.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK