Di era sekarang, anak-anak kita bukan cuma bermain di taman atau halaman rumah mereka juga 'bermain' di dunia digital yang luas dan penuh pengaruh.
Media sosial bisa jadi tempat belajar dan berekspresi, tapi juga bisa mengaburkan jati diri anak jika tak didampingi dengan bijak. Artikel ini hadir untuk membantu SuperParents mendampingi anak menemukan siapa dirinya yang sejati, bukan berdasarkan algoritma, tapi berdasarkan kasih dan kebenaran.
“Likes” bukan cermin harga diri. Anak perlu tahu bahwa dia berharga karena siapa dirinya, bukan seberapa viral postingannya.
Dengarkan dulu cerita mereka sebelum mereka mencari “pengakuan” dari luar.
Fokuskan pada konten yang membangun dan mengekspresikan diri, bukan hanya ikut tren.
Ajari anak bahwa medsos adalah alat untuk menyebar kebaikan, bukan tempat mencari jati diri.
BACA JUGA : Jangan Langsung Marah : 5 Fakta di Balik Sikap Anak yang Suka Mengejek Temannya
Dorong kegiatan offline yang memperkuat karakter: komunitas, pelayanan, hobi, olahraga.
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Perilaku orangtua di media sosial jadi cermin yang kuat.
Bantu anak mengenal siapa mereka di mata Tuhan—unik, dikasihi, dan punya tujuan ilahi.
Jati diri anak bukan ditentukan algoritma, tapi oleh kasih Tuhan dan dukungan keluarga. Yuk, dampingi mereka dengan bijak agar tetap kuat berdiri di tengah arus dunia digital.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK