Kadang yang paling sulit dalam hidup bukan masalahnya, tapi menjaga hati supaya tetap tenang. Ada momen di mana kita ingin marah, ingin menyerah, atau bahkan ingin berhenti berharap. Tapi yang menarik, tokoh-tokoh di Alkitab juga pernah merasakan hal yang sama. Mereka bukan orang yang hidupnya selalu baik-baik saja. Justru mereka tetap belajar menjaga hati di tengah situasi yang berat.
Dan mungkin, dari mereka kita bisa belajar sesuatu yang sederhana tapi sangat penting.
Daud bukan cuma raja yang kuat. Dia juga pernah merasa takut, sedih, bahkan sendirian. Ada masa di mana dia harus lari dan bersembunyi karena dikejar Saul. Tapi yang membuat Daud berbeda adalah dia tidak membiarkan hatinya dipenuhi kebencian. Dia tetap datang kepada Tuhan, tetap berdoa, dan tetap percaya walaupun situasinya tidak mudah.
Dari Daud kita belajar bahwa menjaga hati bukan berarti hidupnya harus tenang dulu. Justru hati dijaga di tengah kekacauan.
Yusuf disakiti oleh orang-orang yang paling dekat dengannya. Dia dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, diperlakukan tidak adil, bahkan harus masuk penjara. Tapi yang paling menguatkan dari kisah Yusuf adalah dia tidak menjadi pahit. Dia tidak membiarkan luka membuat hatinya berubah menjadi keras.
Kadang yang paling sulit bukan memaafkan orang lain, tapi menjaga hati supaya tidak menjadi dingin. Dan Yusuf menunjukkan bahwa itu mungkin.
Menunggu itu tidak pernah mudah. Apalagi kalau kita sudah berdoa lama tapi belum melihat jawabannya. Hana juga pernah ada di posisi itu. Dia menunggu, menangis, dan merasa lelah. Tapi dia tidak berhenti datang kepada Tuhan. Dia tidak membiarkan hatinya berubah menjadi putus asa.
Dari Hana kita belajar bahwa menjaga hati juga berarti tetap percaya walau jawabannya belum datang.
Tidak semua hal dalam hidup bisa kita pahami. Kadang ada hal yang terjadi begitu saja dan kita hanya bisa bertanya, “Kenapa ya?” Maria juga pernah ada di situasi seperti itu. Banyak hal yang tidak dia mengerti sepenuhnya, tapi dia tetap percaya dan tetap menjaga hatinya.
Ini mengingatkan kita bahwa menjaga hati bukan berarti kita harus mengerti semuanya. Kadang kita hanya perlu tetap percaya.
Ayub kehilangan hampir semuanya. Dan jujur saja, kalau kita ada di posisinya, mungkin kita juga akan merasa marah atau menyerah. Tapi Ayub tetap berusaha menjaga hatinya agar tidak menjauh dari Tuhan. Dia tetap percaya, bahkan di saat hidupnya terasa sangat berat.
Dari Ayub kita belajar bahwa menjaga hati bukan berarti tidak merasa sedih. Tapi tetap percaya walaupun hati sedang sangat lelah.
Kalau hari ini hidup terasa berat, mungkin yang paling penting bukan mencari cara supaya masalahnya langsung hilang. Tapi belajar menjaga hati supaya tetap tenang, tetap percaya, dan tetap kuat.
Dan kabar baiknya, kita tidak sendirian. Tokoh-tokoh di Alkitab juga pernah ada di titik yang sama. Tapi mereka tetap menjaga hati mereka. Dan mungkin, kita juga bisa mulai dari hal yang sederhana hari ini.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK