Contohnya seperti : marah, sedih, kecewa, atau malu. Tapi mereka belum selalu tahu bagaimana menyampaikannya dengan benar. Ketika mereka berteriak, menangis, atau menolak bekerja sama, banyak orangtua menjadi bingung atau ikut terpancing emosi.
Padahal, ini momen penting untuk membimbing anak mengelola perasaan mereka. Kemampuan mengatur emosi bukan hanya membantu anak lebih tenang saat menghadapi konflik, tetapi juga membentuk karakter mereka ketika dewasa nanti.
Kabar baiknya, setiap orangtua dapat membantu anak belajar mengenali dan mengendalikan perasaan sejak di rumah. Berikut lima langkah praktis yang bisa mulai diterapkan hari ini:
Semua emosi itu wajar dan boleh dirasakan. Namun, tidak semua tindakan boleh dilakukan. Ketika anak menangis atau marah, orangtua bisa berkata:
“Mama tahu kamu kecewa karena mainanmu diambil. Kamu boleh marah, tapi kita tidak boleh memukul, ya.”
Saat emosi anak dihargai, mereka merasa aman untuk belajar mengekspresikan diri secara sehat.
Seringkali anak berperilaku “agresif” karena mereka belum bisa menjelaskan apa yang dirasakan. Kenalkan berbagai jenis emosi melalui buku, kartu, atau situasi sehari-hari:
“Kamu kelihatan sedih karena gagal menggambar seperti yang kamu mau?”
“Kakak sepertinya cemburu ya karena adik dapat perhatian?”
Semakin anak bisa menamai perasaan, semakin mudah ia mengendalikannya.
BACA JUGA : Apa yang Harus Superteachers Lakukan? Saat Anak Sekolah Minggu Selalu Berantem
Saat marah, tubuh anak ikut tegang dan napasnya pendek. Orangtua bisa melatih teknik sederhana ini:
Tarik napas 3 detik
Tahan 2 detik
Buang 3 detik
Ajak anak melakukannya bersama. Jadikan ini kebiasaan setiap kali emosi mulai naik—bukan saat sudah meledak.
Buat sudut kecil yang nyaman untuk membantu anak menenangkan diri:
Ada bantal empuk, buku kecil, boneka kesukaan, alat gambar
Tekankan bahwa ini bukan tempat hukuman, tapi tempat aman untuk “cool down” dan kembali siap berbicara baik-baik.
Anak perlu belajar bahwa Tuhan juga peduli dengan perasaan mereka. Ajarkan doa sederhana:
“Tuhan Yesus, tolong tenangkan hati aku.”
Hubungkan dengan Firman Tuhan, seperti Galatia 5:22–23 yang mengajarkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, dan penguasaan diri. Anak bukan hanya belajar mengontrol perasaan, tetapi juga bertumbuh dalam karakter Kristus.
Setiap anak berkembang dalam kecepatan yang berbeda. Jangan bandingkan—fokuslah pada proses. Orangtua adalah teladan utama: cara kita bereaksi akan membentuk cara mereka merespons hidup.
Mendampingi anak mengelola emosi memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Tapi setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini, menolong mereka tumbuh menjadi pribadi yang bijak dan mampu menghadapi tantangan dengan hati yang kuat dan penuh damai sejahtera.
Superbook Edisi Sekolah Minggu merupakan kurikulum berbasis visual media persembahan bagi anak-anak di gereja di seluruh Indonesia. Kurikulum ini terdiri dari 45 minggu bahan pelajaran sekolah minggu setiap tahunnya, Permainan interaktif dan topik-topik diskusi yang mengaktifkan anak-anak, dan Catatan Gizmo yang menghubungkan orang tua dengan apa yang dipelajari anak.
Klik untuk bergabungDapatkan berbagai info dan penawaran menarik dari SUPERBOOK