LATEST TESTIMONIES

Mau Mengampuni Seperti Yusuf

“Pa, banyak temen-temen aku di sekolah yang tidak suka sama aku karena aku Kristen” Blesly bercerita kepada Papanya.

 “Gapapa nak. Akan banyak orang yang ga suka sama kita karena kita beragama Kristen. Alkitab juga bilang begitu kok,” jawab papanya.

Kali ini, kisah Superbook tentang Yusuf - Sang Penafsir Mimpi ternyata membawa dampak yang  besar bagi kehidupan seorang anak laki-laki yang berasal dari Gereja Bethel Indonesia Jemaat Gracia, Jakarta. Blesly Yosua Aprel yang biasa dipanggil Blesly, anak laki-laki berusia 10 tahun memberanikan diri untuk bercerita pengalaman pribadinya yang berhubungan dengan kisah Yusuf – Sang Penafsir Mimpi.

“Tolong! Tolonggg!!!” Blesly berusaha menggedor keras pintu toilet sekolah agar ada orang yang mendengar dan membantunya keluar dari toilet. Biasanya Blesly masih bertahan walau sering di-bully teman-teman dikelas karena bercerita tentang kebaikan Tuhan di dalam hidupnya dan satu-satunya anak yang beragama Kristen di kelasnya. 

Kali ini, dikunci di toilet sekolah merupakan pengalaman pertama Blesly. Ia merasa sedih dan marah. Rasanya Blesly tidak ingin memaafkan teman-temannya. Berada di toilet dengan kemarahan membuat Blesly teringat kisah Yusuf yang dijahati oleh ke-10 kakaknya, tapi tetap mengampuni dan mau menerima saudaranya kembali. Blessy akhirnya memutuskan mengampuni dan berdoa kepada Tuhan agar teman-temannya diampuni. Walaupun Blesly mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya, Blesly tidak pernah malu menjadi orang Kristen dan tidak ingin berhenti bercerita tentang kasih Tuhan di dalam hidup Blesly.

Ia ingin belajar untuk terus menjadi anak yang sabar dan memaafkan.  Menurut Ayahnya, Blesly adalah anak yang aktif dan jenaka. Akhir-akhir ini, Blesly mulai memberanikan diri untuk menjadi petugas upacara di sekolahnya. Tiap hari Blesly rajin membaca alkitab, satu pasal setiap harinya. Memang betul, Blesly pernah bercerita tentang teman-temannya yang tidak menyukai dia sebagai orang Kristen, tetapi Ayah Blesly selalu menjelaskan kalau itu memang resiko menjadi seorang Kristen.

Awalnya ayah Blesly tidak mengetahui anaknya pernah dikunci oleh teman-temannya di kamar mandi, karena Blesly pasti tidak berani menceritakan hal tersebut. Tapi setelah diceritakan, ia  bangga atas apa yang sudah Blesly lakukan. Ayah Blesly bangga karena Blesly taat akan firman Tuhan dan benar-benar melakukan yang Tuhan perintahkan.

Kak Anik Nurmawati, yang merupakan Bude dari Blesly sekaligus guru sekolah Minggunya begitu kaget mendengar pengakuan Blesly tentang dirinya yang pernah dikunci dikamar mandi oleh teman-temannya. Ka Anik pun merasa terharu karena walaupun Blesly merasa kesal tetapi Blesly tetap melakukan Firman Tuhan untuk mengampuni teman-temannya. 

Blesly pun memutuskan untuk memaafkan teman-temannya, sekalipun hingga saat ini ia masih terus diganggu. Blesly akan terus bercerita tentang kebaikan Tuhan di dalam hidupnya. Blesly ingin teman-teman lain juga belajar dari kisahnya untuk tidak malu, terus menjadi anak yang sabar, dan juga memaafkan orang lain.

Oleh Lediana Sitanggang  (Fasilitator Superbook –Jakarta)

5.054

GEREJA

302.524

ANAK

2675

SPONSOR

Copyright © 2016. SUPERBOOK