LATEST TESTIMONIES

Memaafkan Lebih Indah dan Damai Dibandingkan Membenci

Tidak mudah bagi anak untuk menerima dan mengasihi teman-temannya ketika mereka diejek dan dihina. Hati mereka yang masih bertumbuh, seakan dipupukkan kebencian yang akhirnya berdampak dalam pergaulannya. Inilah yang dialami oleh Susiani Zai yang berumur 9 tahun dan adiknya Muli Zai, 7 tahun.

Menurut penuturan Pdt. Notaria Gea, S.Th, keluarga mereka memang masih baru tinggal disana. Sebelumnya mereka tinggal di pedalaman Riau, dan ayahnya bekerja sebagai buruh lepas sebuah perkebunan. Rumah mereka dulunya jauh dari mana-mana, jauh juga dari tetangga, sekolah disanapun jauh. Jadi Susi dan Muli baru bisa bersekolah ketika pindah ke Pulau Burung, Batam.

Sumber: Superbook

Susi dan Muli sekarang sama-sama berada di kelas satu. Kakak beradik ini adalah seorang yang pemalu, pendiam, minder baik di sekolah maupun sekolah Minggu. Bukan karena memang sikap mereka darisananya seperti itu, tapi karena teman-temannya seringkali mengejek dan menghinanya. Mereka berdua juga sulit berkomunikasi karena belum mahir berbahasa Indonesia, masih menggunakan bahasa daerah. Inilah yang menjadi bahan candaan teman-temannya.

Mereka mengatai Susi dan Muli dengan sebutan si Nias, si bodoh, si miskin, dan lainnya. Candaan ini akhirnya membuat keduanya lebih sering diam, duduk paling belakang, tidak mau bernyanyi dan tidak mau menyapa teman lain di sekolah Minggu.

Suatu saat, ketika mereka berdua ke sekolah Minggu di Gereja POUK KM 09 Pulau Burung, mereka belajar tentang kisah Esau dan Yakub lewat kurikulum Superbook. Kakak guru sekolah Minggunya ketika itu bertanya kepada anak-anak yang hadir. “Siapa yang pernah membenci dan sakit hati, sampai tidak mau bertegur sapa dengan teman-teman?” tanya Kak Rohani. Susi dan Muli akhirnya mengakuinya dengan jujur.

Sumber: Superbook

Lewat pelajaran Esau dan Yakub, Susi dan Muli tersadar dan mulai memaafkan teman-teman yang sering mengejek dan menghinanya. Kak Rohani pun akhirnya mengajak mereka berdoa untuk mengampuni teman-temannya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. 

Pada Minggu berikutnya, Susi dan Muli mulai mau ikut bernyanyi saat beribadah serta berani membawakan doa persembahan. Mereka juga berjanji untuk terus semangat dan rajin hadir di sekolah Minggu walaupun jarak dari rumah mereka ke gereja cukup jauh, yaitu 3 km dan mereka menempuhnya dengan berjalan kaki.

Sekarang jika ada anak-anak sekolah Minggu yang mengejek mereka lagi, Susi hanya tersenyum dan menanggapinya sebagai candaan, bukan ejekan. Ini merupakan perjuangan dan perubahan yang sangat luar biasa bagi mereka berdua.

Oleh Helmy Betty Saragih  (Fasilitator Superbook – Batam)

5.050

GEREJA

302.950

ANAK

2675

SPONSOR

Copyright © 2016. SUPERBOOK