LATEST ARTICLE

Temukan dan Latih Bakat Anak


Sumber : Photo by Robert Collins on Unsplash

Semua anak dilahirkan dengan talenta yang Tuhan berikan. Namun sayangnya masih ada beberapa orang tua yang sulit menemukan bakat atau talenta apa yang anaknya miliki. Daniel Coyle, penulis buku “The Talent Code” menemukan kuncinya bahwa keahlian atau kejeniusan itu melewati proses pertumbuhan.

Coyle yang meghabiskan dua tahun untuk meneliti di sembilan tempat pengembangan bakat olah raga, seni, musik, dan matematika di dunia. Ia mengatakan bahwa bakat anak adalah hasil dari pola yang istimewa dan kuat yang mengombinasikan tiga kekuatan elemental, yaitu metode latihan yang ditargetkan, metode pendorong, dan pembinaan yang spesifik.   

Mereka akan melewati tahapan dimana mereka berlatih, menghadapi kegagalan, dipuji, dan dikritik untuk mencapai kesuksesan. Ingin membuat pembelajaran sendiri dirumah? Berikut tipsnya:

  1. Perhatikan momentum awal yang kecil dan kuat.

Anak tidak mudah berlatih secara mendalam, hal itu membutuhkan gairah (passion), motivasi, ketekunan, dan cinta. Ketika identitas anak terjalin dengan suatu tujuan, semangatnya menjadi membara, energi motivasi di alam bawah sadarnya dilepaskan. “Bukan gen yang membuat anak-anak ini berhasil. Ini adalah bahan bakar yang didalamnya terkandung ide kecil. Saya ingin seperti mereka.” Kata Coyle.

  1. Pahami bahwa semua proses latihan setiap anak berbeda dan tidak instan.

Anak akan semakin mahir ketika kita membantunya berusaha melewati kemampuan dasarnya, membuat kesalahan dan memperbaikinya sampai tahap yang disebut “pelatihan mendalam”. Kesalahan adalah pembelajaran agar kemampuannya dapat berkembang dengan cepat. Anak-anak yang melihat sebuah kesalahan sebagai bahan bakar untuk belajar, dibanding keputus-asaan, mereka akan menjadi jenius.

  1. Kenali bahwa latihan yang perlahan adalah latihan yang produktif.

Teknik ini berpengaruh pada semua jenis bakat. Alasan keberhasilannya adalah ketika anak melakukan bakatnya perlahan, ia dapat merasakan dan memperbaiki kesalahan lebih banyak, serta melatih anak untuk membangun kemampuannya. Bukan seberapa cepat anak melakukannya, tapi seberapa lamban ia melakukannya secara benar.

  1. Memuji usahanya, bukan kemampuan alaminya.

Saat kita memuji kepintaran seorang anak, kita memposisikan anak itu sudah menguasai kemampuannya sehingga ia akan mengambil resiko yang lebih kecil. Namun saat kita memuji usahanya, anak menjadi tidak ragu untuk mengambil resiko yang lebih besar, melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Inilah esensi pelatihan dan pembelajaran yang mendalam.

  1. Mendorong peniruan.

Meniru adalah cara neurologis manusia untuk menemukan kemampuannya. Ajak anak untuk membayangkan bahwa mereka dapat melakukan kemampuannya secara sempurna, ini adalah langkah awal yang bagus untuk melakukannya. Tim Gallwey, penulis dan instruktur tenis, mengajar murid pemula dengan bermain tenis secara meniru tanpa instruksi satu katapun.

Kesimpulan

Hasil pelatihan mendalam untuk menumbuhkan kemampuan hanya berasal dari anak, bukan orang tua. Seperti yang dikatakan oleh Psikolog  Standford, Carol Dweck, semua saran orang tua dapat disimpulkan menjadi dua hal penting:

  1. Perhatikan apa yang dilihat anak Anda
  2. Puji usahanya

Dengan kata lain, perhatikan ketika mereka mulai mencintai bidangnya, dan bantu mereka untuk menggunakan energi cintanya secara bijak. Bakat atau talenta adalah sesuatu yang dibangun, bukan sekedar dilahirkan. Seperti kata Alkitab tentang perumpamaan talenta di Matius 25: 14 – 30. Talenta merupakan pemberian Allah secara cuma-cuma, dan kita harus memperjuangkannya sampai menjadi yang berkat bagi orang banyak. (CC)

Source : education.com

 

SHARE ARTIKEL INI DENGAN KAMU KLIK TOMBOL "SHARE ON FACEBOOK"  DIBAWAH.


3.985

GEREJA

234.836

ANAK

3079

SPONSOR

Copyright © 2016. SUPERBOOK