LATEST ARTICLE

Sebelum Terlambat! Kenali Tanda-tanda Trauma pada Anak


  • 270
Sumber : Superbook

Trauma bisa terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Trauma dan gejala yang dialami pun berbeda-beda sesuai usianya. Trauma yang terjadi pada balita bisa berbeda dengan trauma yang dialami oleh batita. Walaupun biasanya anak-anak belum bisa mengatakan bahwa itu merupakan suatu tanda trauma, namun prilaku mereka akan menunjukan trauma terhadap sesuatu. Misalnya saja, jika anak trauma terhadap api maka si kecil pun akan merasa takut atau cemas jika berada di dekat api atau melihat api.

Anak-anak yang mengalami trauma akan berpengaruh terhadap prilaku dan otaknya. Hal ini akan sangat berbahaya bagi otak si kecil yang masih tumbuh dan berkembang. Dan, hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangannya. Trauma tersebut biasanya akan mempengaruhi memori, perhatian, kesadaran persepsi, berfikir, bahasa, dan kesadaran. Selain itu, beberapa perubahan akibat trauma pun akan mempengaruhi IQ dan kemampuan dalam mengatur emosi, dimana anak-anak akan merasa lebih takut dan kurang aman dengan sekitar.

baca juga : Benarkah Nggak yah Urutan Lahir Pengaruhi Karakter Anak?

Berikut tiga jenis traumatik dari pengalaman langsung yang dialami anak, yakni:

Avoidance Mereka cenderung menghindari segala hal yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Misalnya, si kecil tidak mau lagi melewati jalan di mana ia pernah mengalami kecelakaan.

Re-experiencing Berulang kali anak terus memutar ingatan tentang kejadian traumatik yang dialaminya dan menyebabkan mimpi buruk dalam tidurnya.

Hypersoul Reaksi trauma jenis ini, dapat langsung terlihat. Contohnya saat anak mendengar bunyi letupan, raut wajahnya berubah, gelisah, dan ketakutan.

Dalam hal ini, peran orangtua, pengasuh dan keluarga terdekat sangat penting untuk membantu mereka mengatur emosi dan mungkin mengalami stres yang luar biasa. Anak-anak yang mengalami stres traumatik umumnya mengalami kesulitan dalam mengatur perilaku dan emosi mereka. Mereka akan merasa takut pada lingkungan baru, mudah takut, dan sangat tertutup. Pada beberapa anak juga akan mengalami kesulitan tidur, kehilangan keterampilan, dan sulit berkembang.

Berikut beberapa reaksi atau gejala yang muncul pada anak usia 0-6 tahun yang terkena stres traumatik.

Anak usia 0-2 tahun

•    Menyendiri
•    Menuntut perhatian melalui perilaku yang positif maupun negatif
•    Perkembangan kemampuan berbahasa/lisan yang minim
•    Emosi yang berlebihan
•    Perilaku agresif
•    Masalah memori
•    Pengalaman mimpi buruk, kesulitan tidur atau memiliki kebiasaan tidur yang buruk
•    Memiliki nafsu makan yang buruk, sehingga sikecil memiliki berat badan rendah atau bermasalah dengan berat badan
•    Mempunyai masalah dengan pencernaan
•    Sering menjerit atau menangis secara berlebihan
•    Lebih mudah marah, sedih dan cemas

Anak usia 3-6 tahun

•    Menyendiri
•    Berbuat diluar kontrol
•    Sering marah yang berlebihan
•    Menuntut perhatian melalui perilaku positif dan negatif
•    Merasa cemas, takut dan menghindar
•    Tidak dapat mempercayai orang lain atau teman-temannya
•    Kasar secara verbal
•    Perilaku agresif
•    Pengalaman mimpi buruk, kesulitan tidur, atau memiliki kebiasaan tidur yang buruk
•    Mempunyai pengalaman sakit kepala dan sakit perut
•    Takut pada orang yang mengingatkan tentang trauma tersebut
•    Ketakutan jika terpisah dari orangtua atau pengasuh
•    Kesulitan fokus dan belajar di sekolah
•    Meniru perbuatan kasar akibat dari traumatik
•    Kurangnya kepercayaan diri
•    Lebih mudah marah, merasa sedih, dan cemas yang berlebihan
•    Minimnya perkembangan keterampilan
•    Mengompol, padahal kebiasaan tersebut telah lama ditinggalkan dan melakukan kegiatan regresif lainnya.

baca juga : 10 Alasan Larang Anak Miliki Smartphone Sendiri

 

sumber : berbagai sumber/ meetdoctor.com/ superbookindonesia.com

 

3.033

GEREJA

188.644

ANAK

2465

SPONSOR

Copyright © 2016. SUPERBOOK